Menanti Senja
Menjelang senja, Sejenak saya menengadah ke langit. Sungguh Sangat indah dan memesona. Matahari memancarkan cahaya kemilauannya yang keemasan berkaloborasi dgn cahaya api yang membakar jiwa, pancarannya begitu tajam namun menghangatkan.. Sangat memesona namun juga menikam.
Saya tiba2 mengingat saat menjeguk sosok guru ngaji saya dikampung. Dia yang tawaddu, bercahaya, setiap kata-katanya penuh hikmah dan bertaburkan cinta, dia menjelma bak manusia malakuti. Dia selalu memperlakukan orang dengan baik, walau orang itu buruk atau membencinya.
Saat menjelang ajalnya, saya melihatnya bagaikan matahari yang memancarkan keindahan dan keagungannya saat menjelang senja. Dia memancarkan wajah kebahagiaan dan seakan akan ingin menyampaikan bahwa kematian adalah kehormatan dan kebahagiaan abadi bagi setiap manusia. Kerinduan yang telah lama terpendam kini menuai perjumpaan.
Sebelum ajalnya, semua orang menangisinya dan dia berkata "kematian adalah keniscayaan dan hakNya. Setiap nafas seseorang adalah sebuah langkah menuju ajalnya. Hanya jalan yang kita tempuh menuju ajal yang berbeda, jika jalan menuju ajal selain jalan cinta maka kematian menjadi buruk dan mengerikkan. Jalan cinta itu adalah setiap perbuatan dan niat karena dan untuk Allah, jadi berpegang teguhlah pada Al Qur'an dan itrahnya jika kalian ingin selamat".
Semoga Allah senantiasa mencurahkan RahmatNya. Amien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar