Minggu, 18 September 2016

JALAN CINTA


Syarbanu,,
Dalam setiap gerakmu mengeja semesta ada butir-butir cinta engkau taburkan. Dalam senyumanmu terpancar cahaya cinta yang meluluhlantakkan ke ego an. Dalam tingkahmu yang lucu engkau mengajarkan kegigihan, kesabaran dan ketulusan dalam jalani hidup. Hikmah berterbangan darimu dan akan hinggap di jiwa yang mau berfikir. Dalam tangismu, engkau mengajarkan kepada seorang hamba merintih di hadapan Sang Ilahi dalam mengharap rahmat dan kasih sayangNya.


Syarbanu Nur Aulia nama lengkapmu, nama indah yang dihadiahkan oleh Ayahmu, kini usiamu beranjak 6 bulan. Berbagai  tahap kesempurnaan fisik dan mental telah engkau lewati dengan penuh semangat. Namun masih banyak tahap lagi yang engkau harus lalui sampai pada Puncak Kesempurnaan, Jalan menujuNya adalah Puncak Kesempurnaan manusia.


Syarbanu,,
Saya teringat dengan Baginda Imam Ali Abi Thalib ra, "Perjalanan sangat panjang, namun bekal sangat sedikit.". Perjalanan bukan hanya di alam dunia/materi saja, namun meliputi alam barzakh dan alam akhirat. Perjalanan yang tak bertepi dan terus bergerak, Pada akhirnya akan melebur kepadaNya yang Ada hanyalah Dia. Dari Wejangan baginda Imam Ali, yang begitu dalam dan sarat makna, terpahami  kerendahan diri di hadapanNya.

Anakku,,,
Ada  seorang filosof sekaligus seorang sufi besar timur tengah,namanya  Mulla Shadra.  Ia mengatakan "ada 4 perjalanan manusia ,Pertama, perjalanan dari makhluk ke al-Haq (al-safar min al-khalq ila al-Haq). Perjalanan untuk meninggalkan alam materi ke alam mitsal, dari alam mitsal ke alam akal, dan dari alam akal menuju al-Haq. Meninggalkan dalam hati  selain-Nya. Pada tahap ini Materi tidak boleh bersemayam, dalam kerajaan hati. Setelah mampu melakukan hal ini, baru mulai melangkah ke alam mitsal. Dalam alam mitsal, seseorang akan mengetahui rahasia alam materi: yang lalu, sedang, dan akan terjadi. Semua hal “ajaib”, seperti karomah, mukasyafah, syuhud adalah cobaan, hijab cahaya. Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, seseorang harus lepas dari ketakjuban dan rasa suka terhadap segala fenomena alam mitsal. Kaki spiritual mulai masuk ke alam akal! Di alam mitsal, manusia memiliki bentuk tetapi tanpa beban. Sedangkan di alam akal, manusia tidak berbeban dan tidak berbentuk. Ia bertangan dan berkaki, tetapi tidak dengan bentuk. Bertangan dan berkaki tidak di tempat yang berbeda. Hakikat tangannya adalah hakikat kaki, kepala, dan semua anggota tubuhnya. dan seterusnya. Alam disebut juga : jannah al-muqarrabin (surga orang-orang yang didekatkan) yang letaknya di atas “surga mukminin”. Meskipun kenikmatannya tak terkira, sang pejalan harus terus melanjutkan perjalanan menuju kelezatan yang hakiki, yakni washlah (sampai, menyatu, kawin) dengan al-Haq (wa ilahi al-Mashir), yakni menjadi mazhar nama-Nya.


Kedua, perjalanan dari al-haq memuju al-Haq bersama al-Haq (al-safar fi al-haq). Inilah perjalanan tanpa batas. Perjalanan ini merupakan penelusuran sifat-sifat Ilahiah, mengetahui seluruh sifat dan asma-Nya, fana dalam zat, sifat, dan perbuatannya. Fana bermakna, tidak melihat diri-Nya. Fana dalam zat disebut maqam rahasia (sirr), fana dalam sifat disebut maqam “tersembunyi” (khafi), sedangkan maqam “tersembunyinya sembunyi” adalah fananya fana, yakni tidak merasakan kefanaan. Jika seseorang merasa fana, masih ada pengakuan akan eksistensinya. Pengakuan akan eksistensi adalah dosa besar! Kesadaran kefanaan perlu diabaikan, dan perhatian tertuju pada al-Haq.


Ketiga, Perjalanan dari al-Haq menuju makhluk bersama al-Haq ( al-safar min al-Haq ila al-khalq bi al-Haq). Perjalanan kedua telah sampai pada fana yang bermula dari pelepasan dari dari jerat kemajemukan, dengan berfokus pada Yang Satu. Nah, tahap selanjutnya adalah kembali melihat kemajemukan dengan tetap menjaga kefanaannya. Ketika seseorang fana, tubuh dan jiwanya bersifat ilahiah. Melihat semua alam dengan “mata” al-haq. Nafasnya adalah nafas ketuhanan.


Keempat, perjalanan dari makhluk ke makhluk bersama al-Haq (al-safar fi al-khalq bi al-Haq). Dengan mata ilahiah, seseorang memperhatikan makhluk dan rahasianya, mengerti seluruh rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, tiotik awal dan tujuannya, apa yang baik dan buruk baginya. Inilah maqam wilayah atau khalifah (khalifatullah) atau insan al-kamil. Dan bagi yang diangkat menjadi rasul, maqam ini disebut sebagai risalah (kerasulan)


Anakku,,,
semoga dirimu senantiasa dalam  rahmat dan lindunganNya.