Setelah selesai menyelesaikan tugas akhir dikampus, tiba-tiba Seorang teman menghampiri dan bertanya dengan serius. Bagaimana cara mengenal syeitan dalam diri kita???
Saya tiba-tiba tersentak mengingat pencerahan dari seorang guru. Dia mengatakan " jika engkau dibaluti rasa takut melangkah menuju kebaikan dan kebimbangan memutuskan perkara, ikutilah akalmu yang berlandaskan syariat Tuhan bukan perasaanmu. Maka kau telah melakukan perang penaklukkan terhadap egomu sendiri yang berafiliasi dgn syeitan.
Mengambil teori sun tzun "Terlebih dahulu kenalilah musuhmu dan medannya kemudian taklukkan". Musuh dalam diri manusia adalah egonya berafiliasi dengan syeitan.
Dia sangat cerdas dan licik sekali, dia akan selalu hadir dalam setiap langkah dan gerak seseorang, dan mencari celah untuk masuk mencongkol dan menggerogoti jiwa seseorang. Jika itu terjadi, maka cara cerdas melawan musuh adalah tetap fokus pada tujuan hidup dan mempercepat serta memperbanyak kebaikan yang ampuh dalam melumpuhkan musuh".
Jika akal tak mampu menjadi panglima perang dalam jiwa seseorang, maka kehinaan dan keburukan akan menjlema menjadi diri dan sepanjang hidup akan menghantui seseorang.
Masihkah kita menjadikan ego sebagai panglima dalam dirimu???
Filsafat
Minggu, 06 November 2016
Selasa, 18 Oktober 2016
Menikah adalah jalan suci dan mensucikan, jalan menuju ego Ke-semesta-an. Sebuah perjalanan ruhani yang menapakkan sayap-sayap menuju kafilah manusia suci. sebuah kesyukuran menjalin hubungan suci nan agung bersama yang dicintai.
Menjadi bagian hidup dari dirinya adalah keberuntungan dan keselamatan. menghabiskan sisa umur bersamanya adalah sebuah anugerah terbesar. Di jiwa dan pikiranku telah bertahta hanya dirinya yang akan sll bersetia dengan dirinya sampai ajal menjemput.
Setiap detik dirinya menjelma perisai keluarga. menjadi lilin lilin peradaban disetiap tempat berpijak. dia yang senantiasa berjalan menyerap energi yin dan yan . Dalam dirinya kutemukan Tuhan pada dirinya ,kulihat dia sosok laki2 yang telah menjelmakan sifat jalal dan jamalnya pada tempatnya. jiwaku telah terserap oleh keagungan dirinya, hingga dengan sendirinya jiwa ini berusaha semampu membahagiakan dirinya. karena tiada azab yang terperih selain menyakitinya. meaati suami adalah menaati Tuhan.
Selamat wedding anniversary
Semoga kita sll dalam lindunganNya. amien
Menanti Senja
Menjelang senja, Sejenak saya menengadah ke langit. Sungguh Sangat indah dan memesona. Matahari memancarkan cahaya kemilauannya yang keemasan berkaloborasi dgn cahaya api yang membakar jiwa, pancarannya begitu tajam namun menghangatkan.. Sangat memesona namun juga menikam.
Saya tiba2 mengingat saat menjeguk sosok guru ngaji saya dikampung. Dia yang tawaddu, bercahaya, setiap kata-katanya penuh hikmah dan bertaburkan cinta, dia menjelma bak manusia malakuti. Dia selalu memperlakukan orang dengan baik, walau orang itu buruk atau membencinya.
Saat menjelang ajalnya, saya melihatnya bagaikan matahari yang memancarkan keindahan dan keagungannya saat menjelang senja. Dia memancarkan wajah kebahagiaan dan seakan akan ingin menyampaikan bahwa kematian adalah kehormatan dan kebahagiaan abadi bagi setiap manusia. Kerinduan yang telah lama terpendam kini menuai perjumpaan.
Sebelum ajalnya, semua orang menangisinya dan dia berkata "kematian adalah keniscayaan dan hakNya. Setiap nafas seseorang adalah sebuah langkah menuju ajalnya. Hanya jalan yang kita tempuh menuju ajal yang berbeda, jika jalan menuju ajal selain jalan cinta maka kematian menjadi buruk dan mengerikkan. Jalan cinta itu adalah setiap perbuatan dan niat karena dan untuk Allah, jadi berpegang teguhlah pada Al Qur'an dan itrahnya jika kalian ingin selamat".
Semoga Allah senantiasa mencurahkan RahmatNya. Amien
Minggu, 18 September 2016
JALAN CINTA
Syarbanu,,
Dalam setiap gerakmu mengeja semesta ada butir-butir cinta engkau taburkan. Dalam senyumanmu terpancar cahaya cinta yang meluluhlantakkan ke ego an. Dalam tingkahmu yang lucu engkau mengajarkan kegigihan, kesabaran dan ketulusan dalam jalani hidup. Hikmah berterbangan darimu dan akan hinggap di jiwa yang mau berfikir. Dalam tangismu, engkau mengajarkan kepada seorang hamba merintih di hadapan Sang Ilahi dalam mengharap rahmat dan kasih sayangNya.
Syarbanu Nur Aulia nama lengkapmu, nama indah yang dihadiahkan oleh Ayahmu, kini usiamu beranjak 6 bulan. Berbagai tahap kesempurnaan fisik dan mental telah engkau lewati dengan penuh semangat. Namun masih banyak tahap lagi yang engkau harus lalui sampai pada Puncak Kesempurnaan, Jalan menujuNya adalah Puncak Kesempurnaan manusia.
Syarbanu,,
Saya teringat dengan Baginda Imam Ali Abi Thalib ra, "Perjalanan sangat panjang, namun bekal sangat sedikit.". Perjalanan bukan hanya di alam dunia/materi saja, namun meliputi alam barzakh dan alam akhirat. Perjalanan yang tak bertepi dan terus bergerak, Pada akhirnya akan melebur kepadaNya yang Ada hanyalah Dia. Dari Wejangan baginda Imam Ali, yang begitu dalam dan sarat makna, terpahami kerendahan diri di hadapanNya.
Anakku,,,
Ada seorang filosof sekaligus seorang sufi besar timur tengah,namanya Mulla Shadra. Ia mengatakan "ada 4 perjalanan manusia ,Pertama, perjalanan dari makhluk ke al-Haq (al-safar min al-khalq ila al-Haq). Perjalanan untuk meninggalkan alam materi ke alam mitsal, dari alam mitsal ke alam akal, dan dari alam akal menuju al-Haq. Meninggalkan dalam hati selain-Nya. Pada tahap ini Materi tidak boleh bersemayam, dalam kerajaan hati. Setelah mampu melakukan hal ini, baru mulai melangkah ke alam mitsal. Dalam alam mitsal, seseorang akan mengetahui rahasia alam materi: yang lalu, sedang, dan akan terjadi. Semua hal “ajaib”, seperti karomah, mukasyafah, syuhud adalah cobaan, hijab cahaya. Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, seseorang harus lepas dari ketakjuban dan rasa suka terhadap segala fenomena alam mitsal. Kaki spiritual mulai masuk ke alam akal! Di alam mitsal, manusia memiliki bentuk tetapi tanpa beban. Sedangkan di alam akal, manusia tidak berbeban dan tidak berbentuk. Ia bertangan dan berkaki, tetapi tidak dengan bentuk. Bertangan dan berkaki tidak di tempat yang berbeda. Hakikat tangannya adalah hakikat kaki, kepala, dan semua anggota tubuhnya. dan seterusnya. Alam disebut juga : jannah al-muqarrabin (surga orang-orang yang didekatkan) yang letaknya di atas “surga mukminin”. Meskipun kenikmatannya tak terkira, sang pejalan harus terus melanjutkan perjalanan menuju kelezatan yang hakiki, yakni washlah (sampai, menyatu, kawin) dengan al-Haq (wa ilahi al-Mashir), yakni menjadi mazhar nama-Nya.
Anakku,,,
semoga dirimu senantiasa dalam rahmat dan lindunganNya.
Syarbanu,,
Dalam setiap gerakmu mengeja semesta ada butir-butir cinta engkau taburkan. Dalam senyumanmu terpancar cahaya cinta yang meluluhlantakkan ke ego an. Dalam tingkahmu yang lucu engkau mengajarkan kegigihan, kesabaran dan ketulusan dalam jalani hidup. Hikmah berterbangan darimu dan akan hinggap di jiwa yang mau berfikir. Dalam tangismu, engkau mengajarkan kepada seorang hamba merintih di hadapan Sang Ilahi dalam mengharap rahmat dan kasih sayangNya.
Syarbanu Nur Aulia nama lengkapmu, nama indah yang dihadiahkan oleh Ayahmu, kini usiamu beranjak 6 bulan. Berbagai tahap kesempurnaan fisik dan mental telah engkau lewati dengan penuh semangat. Namun masih banyak tahap lagi yang engkau harus lalui sampai pada Puncak Kesempurnaan, Jalan menujuNya adalah Puncak Kesempurnaan manusia.
Syarbanu,,
Saya teringat dengan Baginda Imam Ali Abi Thalib ra, "Perjalanan sangat panjang, namun bekal sangat sedikit.". Perjalanan bukan hanya di alam dunia/materi saja, namun meliputi alam barzakh dan alam akhirat. Perjalanan yang tak bertepi dan terus bergerak, Pada akhirnya akan melebur kepadaNya yang Ada hanyalah Dia. Dari Wejangan baginda Imam Ali, yang begitu dalam dan sarat makna, terpahami kerendahan diri di hadapanNya.
Anakku,,,
Ada seorang filosof sekaligus seorang sufi besar timur tengah,namanya Mulla Shadra. Ia mengatakan "ada 4 perjalanan manusia ,Pertama, perjalanan dari makhluk ke al-Haq (al-safar min al-khalq ila al-Haq). Perjalanan untuk meninggalkan alam materi ke alam mitsal, dari alam mitsal ke alam akal, dan dari alam akal menuju al-Haq. Meninggalkan dalam hati selain-Nya. Pada tahap ini Materi tidak boleh bersemayam, dalam kerajaan hati. Setelah mampu melakukan hal ini, baru mulai melangkah ke alam mitsal. Dalam alam mitsal, seseorang akan mengetahui rahasia alam materi: yang lalu, sedang, dan akan terjadi. Semua hal “ajaib”, seperti karomah, mukasyafah, syuhud adalah cobaan, hijab cahaya. Untuk melangkah ke tahap selanjutnya, seseorang harus lepas dari ketakjuban dan rasa suka terhadap segala fenomena alam mitsal. Kaki spiritual mulai masuk ke alam akal! Di alam mitsal, manusia memiliki bentuk tetapi tanpa beban. Sedangkan di alam akal, manusia tidak berbeban dan tidak berbentuk. Ia bertangan dan berkaki, tetapi tidak dengan bentuk. Bertangan dan berkaki tidak di tempat yang berbeda. Hakikat tangannya adalah hakikat kaki, kepala, dan semua anggota tubuhnya. dan seterusnya. Alam disebut juga : jannah al-muqarrabin (surga orang-orang yang didekatkan) yang letaknya di atas “surga mukminin”. Meskipun kenikmatannya tak terkira, sang pejalan harus terus melanjutkan perjalanan menuju kelezatan yang hakiki, yakni washlah (sampai, menyatu, kawin) dengan al-Haq (wa ilahi al-Mashir), yakni menjadi mazhar nama-Nya.
Kedua, perjalanan dari al-haq memuju al-Haq bersama al-Haq (al-safar fi al-haq). Inilah perjalanan tanpa batas. Perjalanan ini merupakan penelusuran sifat-sifat Ilahiah, mengetahui seluruh sifat dan asma-Nya, fana dalam zat, sifat, dan perbuatannya. Fana bermakna, tidak melihat diri-Nya. Fana dalam zat disebut maqam rahasia (sirr), fana dalam sifat disebut maqam “tersembunyi” (khafi), sedangkan maqam “tersembunyinya sembunyi” adalah fananya fana, yakni tidak merasakan kefanaan. Jika seseorang merasa fana, masih ada pengakuan akan eksistensinya. Pengakuan akan eksistensi adalah dosa besar! Kesadaran kefanaan perlu diabaikan, dan perhatian tertuju pada al-Haq.
Ketiga, Perjalanan dari al-Haq menuju makhluk bersama al-Haq ( al-safar min al-Haq ila al-khalq bi al-Haq). Perjalanan kedua telah sampai pada fana yang bermula dari pelepasan dari dari jerat kemajemukan, dengan berfokus pada Yang Satu. Nah, tahap selanjutnya adalah kembali melihat kemajemukan dengan tetap menjaga kefanaannya. Ketika seseorang fana, tubuh dan jiwanya bersifat ilahiah. Melihat semua alam dengan “mata” al-haq. Nafasnya adalah nafas ketuhanan.
Keempat, perjalanan dari makhluk ke makhluk bersama al-Haq (al-safar fi al-khalq bi al-Haq). Dengan mata ilahiah, seseorang memperhatikan makhluk dan rahasianya, mengerti seluruh rahasia makhluk, titik mula dan akhirnya, tiotik awal dan tujuannya, apa yang baik dan buruk baginya. Inilah maqam wilayah atau khalifah (khalifatullah) atau insan al-kamil. Dan bagi yang diangkat menjadi rasul, maqam ini disebut sebagai risalah (kerasulan)
Anakku,,,
semoga dirimu senantiasa dalam rahmat dan lindunganNya.
Langganan:
Komentar (Atom)